Yohanes Djon Bawono}’s portrait

Yohanes Djon Bawono

  • 68 years old
  • Born Nov 29, 1938
  • Died Sep 30, 2007
  • Jakarta, Indonesia
Terima kasih telah mengunjungi makam virtual dari Yohanes Djon Bawono...silakan tulis komentar tentang almarhum jika anda memiliki kenangan indah kepadanya.
More »

About

Biografi singkat

Lahir di Ngawi pada tanggal 28 Nopember 1938 Meninggal di BSD pada tanggal 30 Sept 2007., di pelukan sang istri (Sunaryati Margaretha) yang dicintainya. Ia meninggal karena penyakit penyumbatan di kepala yang  sering dikeluhkannya. Sebelum meninggal ia minta dipijat untuk mengurangi sakit kepala (vertigo) , namun ternyata itu merupakan permintaannya yang terakhir kepada istrinya. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun jiwanya tak tertolong, dan .dinyatakan meninggal pada tanggal : 30 Sept 2007 pukul 09.30. Ia meninggalkan seorang istri, 4 orang anak dan 6 orang cucu. Walaupun ia sudah pensiun dari PT. Asuransi Ramayana namun ia tetap meneruskan keahliannya dalam mencari pelanggan, namun kali ini dalam bidang jasa perbaikan mobil di suatu perusahaan. sampai akhir hayatnya. Ia tak pernah mengeluh, walaupun setiap pagi berangkat ke kantor dengan mengendarai sendiri kendaraannya dan pulang ketika hari telah larut malam. Sungguh sangat melelahkan dalam kondisi umur yang sudah tidak muda lagi. Ia dikenal oleh rekan-rekan sekantor sebagai pegawai yang baik, rajin dan humoris.

Kehidupan awal

Masa kecil

Jon Bawono saat masih kecil.

Jon  Bawono, anak sulung dari 6 bersaudara. Ayahnya bernama Raden Ashal Aminoto (           )   sedangkan ibunya bernama RA Siti Rahayu (                ) . Ia lahir  pada tanggal  29 November 1938 di Ngawi Jawa Timur. Sebenarnya Jon Bawono masih keturunan seorang raja dari Jawa Timur yang bernama Aria Djipang. Dan masa kanak-kanaknya dilalui dengan hidup berkecukupan. Ayahnya seorang guru di jaman Belanda sedangkan kakeknya adalah Bupati ?  Ibunya mempunyai pembantu  lebih dari sepuluh. Namun karena suatu hal menyebabkan Jon yang semula bernama Joko harus survive.  Ia harus mengandalkan beasiswa untuk dapat meneruskan sekolah. Alhasil Jon sering melompat kelas karena kecerdasannya. Ia pun sering dititipkan ke pamannya untuk dapat  meneruskan sekolahnya. Jon kecil yang cerdas ternyata sangat usil dan banyak akalnya. Salah seorang saudaranya pernah kena korban keusilannya, dengan memakan kotoran kambing yang katanya permen asem yang enak. Semenjak kecil Jon senang memelihara binatang. Berbagai burung, ayam, anjing dan tupai pernah dipeliharnya. Ketika sore hari ia pun sering bermain sepak bola bersama teman-temannya.

Pendidikan

Ia    sekolah di universitas Erlangga Surabaya dan mendapat gelar BA. Dan ia pun  juga mendaftar sebagai tentara pelajar. Namun ketika mendapat tawaran untuk menjadi tentara, ia menolak dan memilih sebagai pegawai di perusahaan asing.

Nasib keluarga

Kondisi keuangan keluarganya memburuk, ibunya terpaksa bekerja di toko pakaian. Sedangkan sang ayah pergi ke salah satu pesantren untuk memperdalam agama Islam. Hal tersebut menyebabkan Jon harus rela meninggalkan ibunya dan tinggal bersama salah seorang pamannya.

Menjadi tentara pelajar

Ketika mendaftar sebagai tentara pelajar, Jon sangat bangga. Ia pernah mendapat tugas yang sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwanya, saat menyelundupkan senjata untuk pejuang di pedalaman. Tugas itu pun dilaksanakan dengan baik.

Bekerja di Perusahaan Asing

Di perusahaan asing Bersumhey ? yang berlokasi di Surabaya, ia menyerahkan lamaran pekerjaan. Ia pun mengikuti serangkaian tes yang di uji oleh seorang sekretaris eksekutif, yang akhirnya menjadi kakak iparnya. Akhirnya Jon diterima dan bekerja di perusahaan tesebut. Karirnya sangat gemilang, bahkan ia pun diangkat menjadi kepala SDM. Pundi-pundi mata uang pun semakin melimpah. Jon yang berwajah tampan kini berani  berkencan dengan pegawai di perusahaan tersebut. None Belanda dan gadis Menado tak urung pernah dikencaninya. Namun ketika karirnya berada di puncak, perusahaan Bershumey  tidak dapat bertahan dan dinyatakan bubar. Banyak pegawai Belanda yang pulang ke negerinya termasuk none Belanda tersebut. Jon pun akhirnya menikah dengan gadis Menado  bernama Josefine Menajang, yang merupakan adik dari Margaretha si sekretaris eksekutif yang mengujinya.

Berkeluarga

Setelah 7 tahun dalam penantian dan sekali mengalami keguguran, akhirnya Josefine yang akrab dipanggil Vivi melahirkan seorang bayi perempuan bernama Sita Sayana pada tahun 1968. Tentunya kelahiran bayi tersebut menjadikan suasana semakin semarak dan bahagia. Namun kebahagian tersebut terusik dengan penyakit yang tiba-tiba diderita oleh sang ibu. Ya, penyakit kanker payudara mulai menggerogotinya. Pelan namun pasti sel-sel yang ganas itu semakin mengganas. Berbagai pengobatan dan kemoterapi dilakukannya, hingga rambut mulai rontok dan kulit mulai hitam karena pengaruh obat yang sangat keras. Pengobatan medis ditangani oleh seorang dokter ahli. Tentu hal ini menguras tabungan yang telah dikumpulkan. Kejadian supirnya yang menabrak orang hingga tewas, ditambah lagi kejadian pemotongan uang saat akan membeli rumah elite di jalan Darmo. Padahal rumah yang saat itu ditempati keluarganya telah dijual untuk membeli rumah yang lebih baik. Ketika bayi kedua yang diberi nama Melia Dwi Yana lahir pada tahun 1970 keadaan semakin buruk. Akhirnya Jon dan keluarga meninggalkan kota Surabaya yang penuh kenangan dan hijrah ke Semarang untuk mencari peruntungan dan suasana yang baru.

Berkarir di PT Asuransi Ramayana

Karena Jon cakap dan luas pergaulannya, maka ia pun langsung diterima di  PT . Asuransi Ramayana. Di perusahaan asuransi ini pun karir Jon semakin baik. Namun kesehatan sang istri semakin buruk, hingga akhirnya meninggal saat anaknya-anaknya masih kecil. Sadar bahwa anaknya masih membutuhkan seorang ibu, maka Jon pun menikah dengan seorang guru TK bernama Sunaryati Margaretha yang  mendampinginya sampai akhir hayatnya. Saat itu Sita berumur 5 tahun dan Yana 3 tahun. Dua tahun kemudian lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama Ike Devi Sulistyaningtias (1975) dan disusul dengan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Febrian Indri Wahyuningrat (1979). Kebahagian lengkap sudah. Prestasi dalam karirnya pun juga tidak disangsikan lagi. Hingga akhirnya Jon dipindahkan ke Jakarta dan menduduki  jabatan sebagai kepala logistik. Kemudian 3 tahun kemudian dipindahkan lagi ke Semarang dan di angkat sebagai Kepala Cabang Semarang. Saat memimpin cabang Semarang, omset yang dicapai perusahaan asuransi ini melebihi target, sehingga ia ditarik kembali ke Jakarta untuk membenahi Koperama (Koperasi Asuransi Ramayana).  Di samping itu ia juga menjabat sebagai Sekretaris Broker Asuransi. Beberapa kali ia tampil di televisi dan berbicara mengenai broker asuransi (dalam acara wawancara kita). Selain itu ia juga memberikan kursus mengenai perkembangan asuransi.

Share your own memory now

To leave a memory, fill in the fields below

 *
 *
Icon

Choose an icon from the set

More »

Q&A (0)

New! Answer a question and read other's responses

  • Describe the perfect day for Yohanes Djon Bawono?

Find out for whom People are Tweeting their Respects

Music

Macromedia Flash Player 9 is required

Tribute Creator

berncav

    Visited May 07, 2009